ANAK KANGURU NAIK KE KANTUNG INDUKNYA UNTUK ISTIRAHAT DAN MAKAN ("AKU TAHU!" : Asal Tahu Saja, Suranto Adi Wirawan, 2010)

Kamis, 08 Januari 2009

MENJADI ORANG SWASTA

Agaknya benarlah tengara M.A.W. Brouwer berpuluh tahun yang lalu bahwa Indonesia adalah negeri pegawai. Paling tidak, ini tampak dari membludaknya jumlah pelamar setiap kali ada penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Indonesia.

Di kota Tegal saja, misalnya, menurut harian ini Sabtu, 8 Nopember 2008, Badan Kepegawaian Daerah setempat menerima 1468 berkas lamaran CPNS untuk sejumlah formasi yang hanya puluhan saja.

Berbagai alasan dilontarkan sebagai faktor pendorong diminatinya rekrutmen ini; mulai dari trend gaji pegawai negeri yang naik terus (untuk guru negeri saja, misalnya, mulai tahun anggaran 2009 gaji paling rendah adalah 2 juta rupiah), adanya berbagai tunjangan, jaminan hari tua, dll.

Alhasil dengan kondisi lapangan yang seperti ini, status mereka di masyarakat menduduki posisi terhormat. Kalaupun ada pegawai negeri yang berlaku amoral, paling hanya dikenai sanksi administratif saja, atau dimutasi dari jabatannya semula. Gaji, berbagai tunjangan, dan jaminan masih tetap mereka terima. Hmm … tawaran menggiurkan bagi orang-orang yang tak mau berisiko, harapan besar untuk mereka yang ingin hidupnya tentram dan damai. Pilihan realistis di negara-negara yang sudah makmur.

Adapun bagi negeri-negeri di masa yang tengah dibelit krisis keuangan global seperti saat ini, menjadi orang swasta lebih realistis, dan akan menginspirasi banyak orang lain untuk menggerakkan roda perekonomian.


Dunia Swasta

Tentu saja, konstatasi perekonomian suatu bangsa lebih dijalankan oleh ke-(wira)-swastaan daripada oleh pemerintah. Pemerintah sebaiknya cukup dipandang sebagai regulator / fasilitator saja, sedang yang berperan penting dalam hal ini adalah pelaku dunia ekonomi.

Di lapangan, perusahaan kecil yang beromset ratusan ribu rupiah lebih berperan menghidupi orang banyak daripada gaji seorang pegawai negeri yang jutaan rupiah.

Omset pengusaha ratusan ribu ini “diputar” lagi untuk modal produksi berikutnya, selain tentu saja, untuk konsumsinya sendiri. Sedang gaji pegawai negeri jutaan hanya cukup (bahkan seringkali tidak cukup) untuk kegiatan konsumsi saja.

Jelas saja, pengusaha kecil ini lebih berjasa untuk dirinya sendiri (dan karyawannya), daripada pegawai negeri yang berkonsumsi hanya untuk keluarganya saja.

Dalam skala yang lebih besar, pengusaha multi nasional merekrut lebih banyak tenaga kerja dengan upah yang setara dengan kualitas kerjanya, sedang korps pegawai negeri hanya segelintir kecil dengan penghasilan tetap untuk kualitas kerja yang tidak menentu. Bila jumlah pelayan masyarakat ini pun ditambah, ini berarti menambah beban anggaran negara untuk sektor belanja gaji mereka.

Jika potensi korupsi sama-sama besar, maka yang terjadi dunia swasta hanya akan berakibat pada pihak-pihak yang terlibat dengan pelaku, sedang korupsi di pemerintahan, dampak buruknya akan ditanggung oleh seluruh rakyat, bahkan bayi yang baru lahir.

Menurut sebuah survei, jumlah pegawai pemerintah pada negara-negara yang sudah maju hanya sekitar 2% saja dari keseluruhan jumlah penduduk. Dari sini kemudian disimpulkan bahwa sedikitnya pegawai negeri (dan banyaknya pelaku ekonomi swasta) berkorelasi nyata dengan pertumbuhan perekonomian yang signifikan. Sayangnya tidak ada contoh negara dengan jumlah pegawai pemerintahan yang prosentasenya besar. Namun sangat mudah diprediksi bahwa ketergantungan korps pegawai negeri terhadap pemerintah yang berkuasa adalah suatu kondisi yang mengkhawatirkan, terlebih lagi situasi dunia yang semakin rentan konflik (ingatlah ketika Perdana Menteri Ismail Haneya di Palestina tak mampu menggaji jajaran pemerintahannya karena tak mendapat dukungan dari Barat)

Dari segi ketahanannya pun, orang-orang swasta lebih teruji dari para amtenar ini. Konon sewaktu krisis moneter satu dekade yang lalu terjadi, sektor riil, pemilik usaha kecil-kecilan, mampu bertahan, sedang perusahaan-perusahaan dengan omset besar dan korps pegawai negeri hanya ikut membengkakkan jumlah utang luar negeri yang mencapai ratusan trilyun rupiah.

Dengan demikian, menjadi orang swasta, selain tidak ikut menambah beban anggaran negara, juga menginspirasi orang untuk hidup mandiri, suatu elan vital yang saat ini memang sudah kian tergerus common sense sempit.



* Guru MI NU 01 Sutapranan Kec. Dukuhturi Kab Tegal, anggota Forum Guru Sekolah Swasta Kabupaten Tegal, & tidak pernah mengikuti rekrutmen CPNS

lintasberita

Selasa, 16 Desember 2008

TELOR PALSU, IJAZAH PALSU, SURAT NIKAH PALSU, OBAT

PALSU, JAMU PALSU, AIR MINERAL PALSU, MINUMAN

KEMASAN PALSU, SIM PALSU, STNK PALSU, KTP PALSU,

POLISI GADUNGAN, TENTARA GADUNGAN, DOKTER

GADUNGAN, MOTOR BODONG, MOBIL BODONG ...

lintasberita

Senin, 17 November 2008

Manakah Yang Lebih Banyak ?

Golongan manusia yang bagaimana yang jumlahnya lebih banyak ? Penghuni surga dengan penghuni neraka lebih banyak manakah ? Orang beriman dengan orang kafir, siapakah yang lebih sedikit ? Manusia yang tersesat dengan yang mendapat petunjuk, golongan manakah yang lebih banyak ? Pernahkah pertanyaan-pertanyaan ini Anda ungkapkan dalam hidup kita yang singkat dan hanya satu kali ini ?

Pertimbangkan kenyataan-kenyataan berikut ini :

  • amal perbuatan yang menyebabkan seseorang masuk neraka lebih mudah dilakukan daripada amal perbuatan yang menyebabkan masuk surga. Amalan calon penghuni neraka dilingkupi berbagai hiasan, sedang amalan calon penghuni surga berliku-liku, terjal, dipenuhi onak dan duri

  • firman Allah ta’ala :

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah) {QS. Al An’aam : 116}

  • .. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (oang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan … {QS. Al An’aam : 119}

  • dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta’at) {QS. Al A’raaf : 17}

  • benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya {QS. Al A’raaf : 18}

  • Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, … {QS. Al A’raaf : 178}

  • Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik {QS. Al Hadiid : 16}

  • maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun … {QS. At Taubah : 25}

  • sesungguhnya janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan manusia itu tidak mengetahui(nya) {QS. Yunus : 55}

  • (Iblis) berkata : Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil {QS. Al Israa’ : 62}

  • Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya … {QS. Yusuf : 103}

  • Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah {QS. Yusuf : 106}

  • , sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia … {QS. Ibrahim : 36}

  • Iblis berkata : “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan memandang baik di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba Engkau yang mukhlis di atara mereka {QS. Al Hijr : 39-40}

  • Mereka mengetahui nikmat Allah,kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir {QS. An Nahl : 83}

  • Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al Qur’an ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkarinya {QS Al Israa’ : 88}

  • Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia baik bagimu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar {QS. An Nuur : 11}

  • maka kebanyakan manusia itu tidak kecuali mengingkari (ni’mat) {QS. Al Furqaan : 50}

  • Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman {QS. Asy Syu’araa : 190} **ayat-ayat dengan lafaz yang sama telah diulang-ulang pada surat-surat sebelumnya**

  • dan masih banyak lagi

Nah, masih bangga dengan jumlah anggota kelompokmu yang besar ?

lintasberita