UNTUK SEGALANYA, SEHINGGA ALLAH swt.
MENINGGIKAN DERAJAT ORANG BERILMU
DARIPADA YANG TIDAK.
NEW YORK, KAMIS — Anda memiliki ide yang mampu mengubah dunia atau setidaknya membantu kemaslahatan umat? Segera kirim ide Anda ke www.project10tothe100.com. Dapatkan hadiah 10 juta dollar AS (sekitar Rp 93 miliar).
Ya, perusahaan raksasa internet Google Inc mengadakan sayembara adu brilian ide untuk merayakan HUT ke-10 dengan hadiah total 10 juta dollar AS. Syaratnya, ide itu harus benar-benar baru dan diyakini menguntungkan bagi kehidupan manusia.
Program itu dinamai Project 10^100 (dibaca 10 untuk ke-100) dan diumumkan melalui CNN, Kamis (25/9). Tim juri akan memilih lima pemenang dan akan diumumkan Februari 2009. Panitia menerima ide dalam 25 bahasa hingga 20 Oktober 2008.
"Ide ini bisa besar atau kecil, berteknologi atau sederhana tapi brilian. Tetapi, semuanya harus memiliki dampak. Kami sadar ada banyak ide brilian yang memerlukan dana dan dukungan untuk menjadi kenyataan," bunyi rilis Google.
Ide bermanfaat yang dimaksud Google adalah seperti penemuan alat Hippo Water Roller. Dikembangkan di Afrika, alat ini bisa mengangkut 24 galon air dan dapat digeser dengan mudah. Alat ini mempermudah warga setempat mengangkut air bersih ke rumahnya.
Di kalangan masyarakat yang berpenyakit, maka orang sehat akan disebut aneh. Di antara orang-orang gila, yang waras akan dituding gila, dan sebaliknya kegilaan akan dibilang ‘normal’.
Sungguh, dalam keadaan seperti ini, kita membutuhkan pedoman hidup yang benar-benar benar, asli, tak pernah diubah oleh tangan-tangan kotor manusia, dan dapat dipercaya. Sebagai seorang muslim, aku harus menyatakan bahwa hanya Al Qur’an dan Sunnah (yang sahih), itulah pedoman yang kubutuhkan.
Maka, mengenai anarkisme, apapun alasannya, tidak boleh dibenarkan. Bila kita mengkritisi anarkisme dalam bentuk kekerasan yang sering terjadi akhir-akhir ini dengan membawa-bawa nama agama, maka supaya adil kita juga harus mencermati anarki yang mengendap-endap, mengintip dan perlahan-lahan menciptakan anarki baru.
Kalau “itu” tidak boleh, mengapa “ini” boleh, bahkan disebut-sebut sebagai ibadah, atau “metode dakwah” yang inklusif (karena menyesuaikan diri dengan adat istiadat setempat) dan toleran ?
Anarki Bulan Ramadhan
Semua “keramaian” itu akan berlipatganda intensitasnya saat bulan puasa tiba. Dari pagi, siang, sore, malam, dini hari, sampai pagi tiba kembali. Suara apa pun ada : mercon, thong-thong prek, penggunaan pengeras suara untuk membangunkan sahur, tadarusan sampai larut malam, pengajian subuh, dhuha, asar, kultum tarawih, hingga takbir keliling malam lebaran.
Semua orang, apa pun keyakinannya, harus “ikut mendengarkan” semua suara itu, entah setuju atau tidak dengan suara-suara itu. Sesama umat yang tidak setuju juga (pasti) ada, apalagi umat agama lain yang jelas-jelas berbeda kepentingannya ? Bagaimana pertanggungjawaban mereka yang memerintahkan, melakukan, dan membiarkan terjadinya hal-hal seperti ini ?
Bulan Ramadhan yang (seharusnya) suci justru menjadi bulan penuh banyolan, dagelan, ngabuburit, tabuh bedug …,
Bulan puasa menjelma bulan penuh anarki yang akan melahirkan anarki-anarki lain pada bulan-bulan berikutnya.
Akibatnya, semua termasuk perilaku maaf memaafkan hanya tradisi rutin yang tak berpengaruh apa-apa bagi kemaslahatan umat.
Pada gilirannya, sepanjang tahun kita hanya sibuk dari satu acara ke acara berikutnya. Setiap hari sepanjang tahun manusia negeri ini cukup sekadar bergelut dengan symbol-simbol, penanda, ikon-ikon, ritual, seremoni. Kita cukup bangga hanya menjadi pengikut, anak buah orang-orang besar, kyai, keturunan orang-orang hebat (bahkan menjadikannya sebagai bahan kampanye).
Nyawa manusia menjadi murah karena memang hampir tak pernah ada manusia hidup di sini. Anarki menghancurkan segalanya … amat pelan … setahap demi setahap …