ANAK KANGURU NAIK KE KANTUNG INDUKNYA UNTUK ISTIRAHAT DAN MAKAN ("AKU TAHU!" : Asal Tahu Saja, Suranto Adi Wirawan, 2010)
Tampilkan postingan dengan label cerdas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerdas. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Juli 2012

FUJITSU LIFEBOOK T902


Fujitsu mengumumkan informasi detail tentang produk terbarunya, yakni sebuah laptop konvertibel bernama Lifebook T902. Laptop yang bisa berubah wujud menjadi tablet ini dilengkapi dengan spesifikasi teknis yang bakal membuat Anda geleng-geleng.

Pada bagian layar, terdapat layar sentuh framelss berukuran 13.3 inci HD+ (1.600×900 piksel) yang mendukung multitouch hingga 10 jari. Layar ini dilengkapi dengan lapisan pelindung Gorilla Glass, anti-glare widescreen display, anti-microbial, spill-resistant keyboard dan trackpad.
Pada bagian prosesor, Ada bisa memilih dua opsi. Opsi pertama Anda bisa menggunakan prosesor Intel Core i5 ataupun core i7 iVy Bridge (prosesor intel generasi ketiga). Selain itu, laptop ini juga mendukung RAM hingga 16 GB DDR3-1600 MHz. Anda pun bisa memakai HDD tambahan ataupun baterai ekstra.
Sebagai fitur tambahan, laptop ini dilengkapi dengan beberapa fasilitas pengamanan. Dari dedicated slot Smart Card, sensor biometric fingerprint, HDD dan Bios password protection, Computrace support, Intel Anti-Theft dan bahkan sebuah panel sekuriti.
“Fujitsu selalu mengembangkan portofolio mobile dengan faktor bentuk yang didesain khusus untuk para pekerja,” ujar Paul Moore, vice president, PC product marketing and product management, Fujitsu America seperti dikutip dari Softpedia. Laptop canggih ini akan bisa ditemui di pasaran pada kuartal ini, antara bulan Juli hingga September, dengan harga $1.899 atau sekitar 18 juta rupiah.BERITA TEKNOLOGI GADGET
lintasberita

Jumat, 20 Juli 2012

Asus Slimbook, Notebook Tipis Seharga Netbook

Setelah munculnya komputer jinjing jenis Ultrabook, tren notebook tipis semakin menguat.

Vendor asal Taiwan, Asus, tidak hanya menghadirkan versi ini pada notebook di kelas premium, tapi juga di tipe produk low-end melalui lini terbarunya, Slimbook.

"Ini adalah notebook tipis dengan harga netbook," ujar Rex Lee, Direktur Regional Asus Asia Tenggara, dalam acara peluncuran produk Asus di Jakarta, Kamis, 21 Juni 2012.

Harga notebook dengan bentang layar 14 inci ini memang relatif setara dengan netbook, yakni mulai dari Rp 2,999 juta.

Meski tidak selangsing Ultrabook, tubuh slimbook masih cukup tipis, mulai dari 2,4 hingga 2,65 sentimeter. Bobotnya pun cukup ringan, mulai dari 1,6 hingga 1,8 kilogram.

Asus juga memperkuat perangkat ini dengan fitur audio SonicMaster dan Instant On. Dengan fitur Instant On pengguna dapat menyalakan laptop dari posisi sleep dalam waktu dua detik, serta berada dalam mode stand by hingga dua minggu lamanya.

Produk ini memiliki tiga varian, yaitu X301A, X401A dan X401U. Prosesor Intel i3 ditanamkan pada X301 A dan X401A, sementara pada X401U ditanamkan prosesor AMD.

Kapasitas penyimpanan terdapat mulai dari 320-750 gigabita. Dalam notebook ini juga sudah terdapat masing-masing satu port USB 3.0 dan USB 2.O, RJ45, HDMI, serta card reader.

Sementara itu ditanamkan juga baterai 6 cell yang memiliki kapasitas 4.400 mAh. Baterai ini diperkuat dengan teknologi Superbatt, sehingga dapat mempertahankan kemampuan maksimalnya hingga seribu kali charging, atau sekitar tiga tahun.

"Setelah seribu kali charging, baru kemampuannya menurun menjadi 70 persen. Ini tiga kali lebih panjang dari notebook kebanyakan," ujar Juliana Cen, Manager of Product Management and Marketing Asus.

Produk ini tersedia dalam warna Dark Blue, Ice White, Energetic Lime, dan Pink, serta mulai dipasarkan satu hingga dua minggu mendatang. (DIAMBIL DARI TEMPO.CO & YAHOO! INDONESIA)
lintasberita

Minggu, 15 Juli 2012

ULTRABOOK PERTAMA dari FUJITSU

Vendor PC asal Jepang, Fujitsu, akhirnya meluncurkan produk ultrabook pertamanya, yaitu Lifebook U772 dan UH572 ke Indonesia. Lifebook U772 merupakan ultrabook premium 14 inci dengan ketebalan maksimal 15,6 milimeter. "Ini merupakan ultrabook tertipis yang terintegrasi dengan hard disk drive," ujar Edmund Lim, Product Marketing Manager Fujitsu Asia Pacific dalam peluncuran produknya di Jakarta, Kamis, 12 Juli 2012. Ia mengatakan, umumnya ultrabook menggunakan SSD untuk mempertahankan bentuknya yang tipis, namun hal ini berakibat dengan kapasitas penyimpanan yang terbatas. Sedangkan dengan penambahan HDD, kapasitas penyimpanan semakin lega dengan tambahan ruang 500 GB. Ultrabook ini dilengkapi prosesor Intel Core generasi ketiga dengan GPU Intel HD Graphics 4000 dan pilihan memori 4GB atau 8GB DDR3 1600 MHz. U772 juga dilengkapi dengan dua buah port USB 3.0 dan Anytime USB Charge yang dapat dimanfaatkan kapan saja untuk mengisi baterai gadget seperti smartphone, meskipun ultrabook ini sedang dimatikan. Tersedia pula pilihan varian 4G/LTE dan 3,5G/ UMTS. Sementara itu Lifebook UH572 merupakan seri ultrabook yang lebih terjangkau dibanding U772. UH572 memiliki lebar layar yang sedikit lebih kecil dari U772, yaitu 13,3 inci, dan memiliki resolusi 1366 x 768 piksel. Seperti saudaranya, ultrabook ini juga menggunakan prosesor generasi ketiga dari Intel serta GPU Intel HD Graphics 4000. Sementara itu ultrabook ini dibekali dengan harddisk 500 GB dan tambahan kapasitas penyimpanan dari iSSD. UH572 memiliki baterai yang mampu bertahan hingga lima jam. Kedua seri ultrabook ini akan mulai tersedia pertengahan bulan ini, dimana U772 dilepas dengan kisaran harga Rp 20 juta dan UH572 sekitar Rp 10 juta. (Diambil dari TEMPO.CO & YAHOO! INDONESIA, 15 JULI 2012)
lintasberita

Minggu, 11 Desember 2011

Momok Bernama Ujian Nasional (2)

Setiap guru di depan siswa, selalu membicarakan tentang UNAS. Kepala sekolah sampai tidak bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkan UNAS. Sementara siswa lebih suka merenung dan berdiam diri membayangkan seandainya dirinya tidak lulus. Ketika diadakan uji coba UNAS dan siswa yang tidak lulus menjadi bingung, putus asa, stres dan akhirnya menangis tanpa ada sebab yang jelas.
Kemampuan intelegensi siswa pastilah beragam, tetapi dalam menghadapi UNAS semua siswa dipaksa untuk bisa mengerjakan soal yang sama. Sehingga dalam pelaksanaan UNAS tidak ada perbedaan antara sekolah kota dan desa, antara anak orang kaya dan anak orang miskin. Namun betapa sulit dan berat, mau tidak mau UNAS harus dihadapi semua siswa di seluruh Indonesia.
Lebih mengherankan lagi bahwa guru-guru yang mengajar materi mata pelajaran UNAS, tidak boleh mengawasi pelaksanaan UNAS, tidak boleh masuk atau mendekati ruang UNAS, tidak boleh mengkoreksi hasil UNAS dan tidak boleh menilai hasil UNAS siswanya. Berarti guru-guru tersebut hanya boleh mengajar dan harus menanggung resiko apabila ada siswanya yang tidak lulus, serta harus mempertanggungjawabkan selama mengajar kepada kepala sekolah, siswa, orang tua siswa dan masayarakat sekitarnya.
Inilah berhala zaman baru yang sedang dipuja-puja kaum intelektual dan calon-calon intelektual Indonesia. Semoga berhala ini cepat sirna dan kaum intelektual tersadar untuk kembali pada pendidikan yang membumi, tidak lagi mengagung-agungkan sistem pendidikan yang cacat dan lari kepada jalan keluar yang tidak sehat. lintasberita

Momok Bernama Ujian Nasional

Setiap 5 bulan sebelum Ujian Nasional (selanjutnya UNAS) dilaksanakan dan 1 bulan setelah UNAS dilaksanakan, semua orang membicarakan tentang UNAS. Guru, karyawan sekolah, siswa dan orang tua siswa menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mensukseskan UNAS. Orang tua siswa dikumpulkan di sekolah untuk membicarakan UNAS, guru-guru sering rapat dengan agenda UNAS bahkan pejabat politis menghimbau semua jajarannya untuk berperan aktif mensukseskan UNAS.Kegiatan belajar dioptimalkan, siswa diberi pelajaran tambahan/les UNAS, lembaga-lembaga pendidikan non formal dipenuhi pelajar yang akan menempuh UNAS, siswa diajak untuk mengerjakan soal-soal, kegiatan-kegiatan religius (do’a bersama, istighosah, tirakatan dan meminta dukungan paranormal) pun digiatkan, jam pelajaran ditambah bahkan jam mata pelajaran yang bukan materi UNAS bisa dipakai untuk jam pelajaran UNAS. Di sini timbul permasalahan, bahwa mata pelajaran yang bukan materi UNAS dipandang sebagai pelajaran yang tidak penting. Bagi orang tua yang kurang percaya dengan guru di sekolah, mereka akan membawa anaknya masuk pada lembaga pendidikan non formal. Ikut les tambahan pada lembaga pendidikan non formal adalah salah satu jurus yang paling diminati untuk mensukseskan UNAS. lintasberita

Senin, 01 Agustus 2011

MENANTI GURU SUPER (2)

Suatu kali pernah terdetik gagasan, untuk mengajar dengan kostum superhero, misalnya, daripada memakai baju safari atau uniform yang digariskan pemerintah. Ini karena superhero adalah tokoh yang diidolakan anak-anak, ‘fatwa-fatwa’nya didengar, bahkan baju yang pernah dipakainya pun dijual mahal. Pernah juga terbayang untuk mengajar murid-murid di pasar, stasiun, rumah sakit atau tempat-tempat umum yang lain, sebagai upaya mendekatkan mereka dengan realita keseharian yang diajarkan. Ini karena, realita keseharian, permasalahan, akan lebih dikenali dari dekat ketimbang (menjejalkan) teori-teori yang paling-paling akan dianggap kosong belaka.
Celakanya, ini hanyalah angan mewah di negeri yang kian disipongangi oleh kabar tawuran antar kelompok warga, pernikahan besar-besaran selebriti dengan foto prewedding yang ‘wah’, pesiar anggota dewan ke luar negeri, juga merebaknya video porno pelajar. Kapal retak ini kian membusuk, dikelindani oleh kesulitan ekonomi berkepanjangan, dan akan segera menjadikannya barang rongsok yang diobral pun tak laku.
Pesimiskah ? Justru ini harus dijadikan tantangan, cakra manggilingan, yang akan membawa kapal pendidikan ke lautan damai. Superhero tak lahir dari rahim subur tanpa kendala, melainkan dari mereka yang mampu mengenali masalah dan menemukan formula solusi yang tepat untuknya. Guru super tak mungkin berasal dari sistem pendidikan yang telah dipenuhi fasilitas, melainkan dari situasi krisis yang bahkan tak memungkinkannya untuk mengajar. lintasberita

Minggu, 31 Juli 2011

MENANTI GURU SUPER (1)

Sungguh, beban yang disandang guru, apalagi yang mengajar pada jenjang pendidikan dasar, amat berat. Guru SD/MI merupakan peletak dasar worldview tentang kependidikan pada anak-anak bangsa. Jika dasarnya baik, maka (diharapkan) anak-anak bangsa akan merespon positif terhadap pendidikan yang mereka alami berikutnya. Sebaliknya, jika buruk, (dikhawatirkan) dapat menjadi stigma betapa rendahnya kualitas pendidikan maupun sekolah pada khususnya.
Para peserta didik akan trauma dengan pendidikan dan menganggap sekolah sebagai penjara bagi kebebasannya berkreasi. Timbullah gagasan deschooling society, home schooling, serta maraknya lembaga-lembaga bimbingan belajar, sebagai dampak carut-marutnya sistem pendidikan nasional, yang menjadikan guru tidak maksimal mengajar di sekolah.
Itu masih sekelumit kondisi internal dalam dunia pendidikan, sedangkan, tantangan dari luar dunia ini masih amat banyak. Kompetitor yang dianggap paling besar dan kerap dikeluhkan para pengajar adalah glamor dunia selebriti, stasiun-stasiun televisi, yang dituding banyak menampilkan tontonan-tontonan tak layak konsumsi.
Peserta didik lebih mengidolakan pesohor yang tak pernah mereka temui daripada guru yang sehari-hari mendampingi. Para petenar yang baru kemarin sore dibesarkan media lebih diamini ketimbang guru-guru yang dengan setia memberikan bimbingan dari nol. lintasberita

Kamis, 30 Desember 2010

Revitalisasi Madrasah

Barangkali benar, sistem pendidikan nasional dewasa ini sekadar meneruskan sistem yang sama diterapkan pada masa kolonial dahulu.

Saat itu, penjajah lebih mementingkan sekolah-sekolah bentukannya sendiri, yang kemudian hari disebut sebagai sekolah negeri. Sebaliknya, lembaga-lembaga pendidikan rintisan masyarakat disebut dengan wilde scholen, ‘sekolah liar’, yang kemudian disebut sekolah swasta (“Sejarah Pendidikan Indonesia”, S. Nasution, PT. Bumi Aksara, 2008).

Apa yang terjadi semenjak pemerintah kolonial mendirikan sekolah-sekolahnya pada pertengahan tahun 1700-an ? Justru penjajahan semakin langgeng, karena sekolah-sekolah negeri bentukan Belanda hanya menjadi perlambang status sebagai bagian masyarakat yang terhormat. Anak-anak sekolah bentukan Belanda acapkali kemudian menjadi pegawai pemerintah penjajah yang sering mengkhianati bangsanya sendiri dan, sebaliknya, menjilat muka penjajah.

Bagaimana pula yang terjadi ketika masyarakat mulai berinisiatif mendirikan sekolah-sekolah, yaitu Taman Siswa yang berorientasi nasionalisme dan Muhammadiyah yang bersifat keislaman, pada awal tahun 1900-an ? Sejak saat itu lahirlah generasi terdidik yang kemudian mendirikan organisasi-organisasi pergerakan bangsa yang lebih modern dan terorganisir, dan pada saatnya memproklamirkan kemerdekaan bangsa.

Perjuangan rakyat yang sekian ratus tahun menemui jalan buntu, pada waktu itu mendapati momentumnya justru ketika masyarakat berinisiatif mendidik dirinya sendiri dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan yang oleh pemerintah kolonial pada saat itu disebut dengan ‘sekolah liar’.

Inilah cikal bakal madrasah, yang berawal dari sekolah-sekolah swasta bentukan masyarakat sendiri sebagai wujud kegeraman atas sekolah-sekolah bentukan penjajah.

Dalam perkembangannya, sekolah umum lebih diminati kalangan orangtua murid ketimbang madrasah. Ini merupakan ironi, sebab, selain porsi pendidikan agama di sekolah umum yang sedikit, pula karena praktek pengajaran ala penjajah masih kerap ditemui pada sekolah umum. Misalnya, pencekokan materi pelajaran yang sejatinya pengkerdilan daya nalar peserta didik, pendapat guru selalu benar - tak boleh dibantah, dll.

Dengan landasan semangat kembali pada perjuangan bangsa, maka Kementerian Agama agaknya tengah berupaya maksimal menguri-uri eksistensi madrasah. Dalam kondisi moral bangsa yang disipongangi berbagai bencana fisik maupun akhlak, revitalisasi madrasah menemukan alasannya. Program kementerian ini antara lain menelurkan program MEDP (Madrasah Education Development Project) yang saat ini masih dalam tahap pertama, mendirikan berbagai madrasah berstandar internasional di beberapa wilayah, mengiklankan madrasah di stasiun-stasiun televisi (beserta film “Simba dan Sahabat”, yang berkisah mengenai haru-biru murid madrasah).

Upaya pemerintah ini patut disambut hangat karena, di luar berbagai cap jelek yang ditabalkan pada Kementerian Agama, disemangati oleh romantisme kembali pada eksistensi awal sebagai bangsa pejuang yang ‘berdikari’ (berdiri di atas kaki sendiri, meminjam istilah Bung Karno), bukan bangsa pegawai, yang sekadar mewarisi sistem peninggalan bangsa penjajah.

Penulis, mengajar di MI Sutapranan,

Kec. Dukuhturi, Kab. Tegal

lintasberita

Kamis, 14 Januari 2010

Saatnya Bagi Dunia Pendidikan

Kebodohan-lah, yang lebih menjadi persoalan di negeri ini, daripada kemiskinan. Jika sebagian kalangan aktivis berpendapat bahwa kemiskinan adalah persoalan mendasar bangsa kita (hingga seminar tentang kemiskinan dan seribu satu macam cara untuk menghindarinya lebih marak), maka sebenarnya kebodohan-lah, sumber masalah bangsa.

Orang kaya yang bodoh, akan mudah tertipu, hartanya terbuang untuk investasi yang percuma. Sebaliknya, si miskin yang berilmu, akan menemui pandangan hidup yang berkarakter dan menjadikan hidupnya bermanfaat bagi orang lain.

Masalah akan terlihat kian jelas saat kemiskinan berselingkuh dengan kebodohan. Rombongan massa yang mengantri zakat sembako tiap menjelang lebaran biasanya miskin, juga bodoh. Kebodohan membuatnya tak malu untuk menengadahkan tangan tanpa karya. Hanya status miskin dan kesediaan mengantri-lah yang menyebabkannya memperoleh sekadar sebungkus beras dan uang penyambung hidup.

Bagaimana dengan orang berilmu ? Ilmu mereka akan bersinergi dengan otaknya, kemudian menggerakkan tangan dan seluruh anggota badannya, bisa jadi, untuk memanggul kayu bakar, menjual jasa pijat, menarik becak, atau menyewakan payung sebagai peneduh dari panas maupun hujan, yang dengannya didapatlah uang sekadar pengganjal perut.

Bukankah semua pekerjaan memerlukan ilmu ? Betapakah si miskin mendapatkannya ? Para motivator berpendapat, bila seluruh kekuatan kita kerahkan, maka lautan pun dapat diseberangi, gunung bisa dipindahkan, bintang gemintang diduduki.

Ilmu bukan hanya dapat diperoleh di sekolah-sekolah formal, namun begitu banyak ilmu (hikmah) yang berserakan. Hanya karena kebodohan kita pulalah, maka emas tampak sebagai batu biasa, sedang kerikil-kerikil terlihat seperti untaian zamrud penghias dunia.

Pendidikan dapat dilaksanakan di tempat-tempat terhormat bertabur pualam, maupun di daerah-daerah kumuh beratap langit dan berpijakkan bumi telanjang. Pengajaran bisa diberikan oleh semua orang yang berilmu lebih tinggi, tanpa harus dengan latar belakang pendidikan tertentu, dan boleh dinikmati siapapun yang ingin, tanpa batasan umur. Masalahnya adalah, kita terlanjur memandang segalanya dengan sudut pandang formal. Dan kebodohan kita membuat formalisasi itu merajalela. Tak aneh jika di surat kabar marak iklan mendapatkan ijazah dengan jalan mudah dan waktu singkat.

Inilah saatnya bagi dunia pendidikan menampilkan wajah santunnya, menawarkan alternatif bagi bangsa yang penat dari kebodohan yang kian menegas ini.

lintasberita