Pada bagian layar, terdapat layar sentuh framelss berukuran 13.3 inci HD+ (1.600×900 piksel) yang mendukung multitouch hingga 10 jari. Layar ini dilengkapi dengan lapisan pelindung Gorilla Glass, anti-glare widescreen display, anti-microbial, spill-resistant keyboard dan trackpad.
Sabtu, 21 Juli 2012
FUJITSU LIFEBOOK T902
Pada bagian layar, terdapat layar sentuh framelss berukuran 13.3 inci HD+ (1.600×900 piksel) yang mendukung multitouch hingga 10 jari. Layar ini dilengkapi dengan lapisan pelindung Gorilla Glass, anti-glare widescreen display, anti-microbial, spill-resistant keyboard dan trackpad.
Jumat, 20 Juli 2012
Asus Slimbook, Notebook Tipis Seharga Netbook
Vendor asal Taiwan, Asus, tidak hanya menghadirkan versi ini pada notebook di kelas premium, tapi juga di tipe produk low-end melalui lini terbarunya, Slimbook.
"Ini adalah notebook tipis dengan harga netbook," ujar Rex Lee, Direktur Regional Asus Asia Tenggara, dalam acara peluncuran produk Asus di Jakarta, Kamis, 21 Juni 2012.
Harga notebook dengan bentang layar 14 inci ini memang relatif setara dengan netbook, yakni mulai dari Rp 2,999 juta.
Meski tidak selangsing Ultrabook, tubuh slimbook masih cukup tipis, mulai dari 2,4 hingga 2,65 sentimeter. Bobotnya pun cukup ringan, mulai dari 1,6 hingga 1,8 kilogram.
Asus juga memperkuat perangkat ini dengan fitur audio SonicMaster dan Instant On. Dengan fitur Instant On pengguna dapat menyalakan laptop dari posisi sleep dalam waktu dua detik, serta berada dalam mode stand by hingga dua minggu lamanya.
Produk ini memiliki tiga varian, yaitu X301A, X401A dan X401U. Prosesor Intel i3 ditanamkan pada X301 A dan X401A, sementara pada X401U ditanamkan prosesor AMD.
Kapasitas penyimpanan terdapat mulai dari 320-750 gigabita. Dalam notebook ini juga sudah terdapat masing-masing satu port USB 3.0 dan USB 2.O, RJ45, HDMI, serta card reader.
Sementara itu ditanamkan juga baterai 6 cell yang memiliki kapasitas 4.400 mAh. Baterai ini diperkuat dengan teknologi Superbatt, sehingga dapat mempertahankan kemampuan maksimalnya hingga seribu kali charging, atau sekitar tiga tahun.
"Setelah seribu kali charging, baru kemampuannya menurun menjadi 70 persen. Ini tiga kali lebih panjang dari notebook kebanyakan," ujar Juliana Cen, Manager of Product Management and Marketing Asus.
Produk ini tersedia dalam warna Dark Blue, Ice White, Energetic Lime, dan Pink, serta mulai dipasarkan satu hingga dua minggu mendatang. (DIAMBIL DARI TEMPO.CO & YAHOO! INDONESIA)
Minggu, 15 Juli 2012
ULTRABOOK PERTAMA dari FUJITSU
Minggu, 11 Desember 2011
Momok Bernama Ujian Nasional (2)
Kemampuan intelegensi siswa pastilah beragam, tetapi dalam menghadapi UNAS semua siswa dipaksa untuk bisa mengerjakan soal yang sama. Sehingga dalam pelaksanaan UNAS tidak ada perbedaan antara sekolah kota dan desa, antara anak orang kaya dan anak orang miskin. Namun betapa sulit dan berat, mau tidak mau UNAS harus dihadapi semua siswa di seluruh Indonesia.
Lebih mengherankan lagi bahwa guru-guru yang mengajar materi mata pelajaran UNAS, tidak boleh mengawasi pelaksanaan UNAS, tidak boleh masuk atau mendekati ruang UNAS, tidak boleh mengkoreksi hasil UNAS dan tidak boleh menilai hasil UNAS siswanya. Berarti guru-guru tersebut hanya boleh mengajar dan harus menanggung resiko apabila ada siswanya yang tidak lulus, serta harus mempertanggungjawabkan selama mengajar kepada kepala sekolah, siswa, orang tua siswa dan masayarakat sekitarnya.
Inilah berhala zaman baru yang sedang dipuja-puja kaum intelektual dan calon-calon intelektual Indonesia. Semoga berhala ini cepat sirna dan kaum intelektual tersadar untuk kembali pada pendidikan yang membumi, tidak lagi mengagung-agungkan sistem pendidikan yang cacat dan lari kepada jalan keluar yang tidak sehat.
Momok Bernama Ujian Nasional
Senin, 01 Agustus 2011
MENANTI GURU SUPER (2)
Celakanya, ini hanyalah angan mewah di negeri yang kian disipongangi oleh kabar tawuran antar kelompok warga, pernikahan besar-besaran selebriti dengan foto prewedding yang ‘wah’, pesiar anggota dewan ke luar negeri, juga merebaknya video porno pelajar. Kapal retak ini kian membusuk, dikelindani oleh kesulitan ekonomi berkepanjangan, dan akan segera menjadikannya barang rongsok yang diobral pun tak laku.
Pesimiskah ? Justru ini harus dijadikan tantangan, cakra manggilingan, yang akan membawa kapal pendidikan ke lautan damai. Superhero tak lahir dari rahim subur tanpa kendala, melainkan dari mereka yang mampu mengenali masalah dan menemukan formula solusi yang tepat untuknya. Guru super tak mungkin berasal dari sistem pendidikan yang telah dipenuhi fasilitas, melainkan dari situasi krisis yang bahkan tak memungkinkannya untuk mengajar.
Minggu, 31 Juli 2011
MENANTI GURU SUPER (1)
Para peserta didik akan trauma dengan pendidikan dan menganggap sekolah sebagai penjara bagi kebebasannya berkreasi. Timbullah gagasan deschooling society, home schooling, serta maraknya lembaga-lembaga bimbingan belajar, sebagai dampak carut-marutnya sistem pendidikan nasional, yang menjadikan guru tidak maksimal mengajar di sekolah.
Itu masih sekelumit kondisi internal dalam dunia pendidikan, sedangkan, tantangan dari luar dunia ini masih amat banyak. Kompetitor yang dianggap paling besar dan kerap dikeluhkan para pengajar adalah glamor dunia selebriti, stasiun-stasiun televisi, yang dituding banyak menampilkan tontonan-tontonan tak layak konsumsi.
Peserta didik lebih mengidolakan pesohor yang tak pernah mereka temui daripada guru yang sehari-hari mendampingi. Para petenar yang baru kemarin sore dibesarkan media lebih diamini ketimbang guru-guru yang dengan setia memberikan bimbingan dari nol.
Kamis, 30 Desember 2010
Revitalisasi Madrasah
Barangkali benar, sistem pendidikan nasional dewasa ini sekadar meneruskan sistem yang sama diterapkan pada masa kolonial dahulu.
Saat itu, penjajah lebih mementingkan sekolah-sekolah bentukannya sendiri, yang kemudian hari disebut sebagai sekolah negeri. Sebaliknya, lembaga-lembaga pendidikan rintisan masyarakat disebut dengan wilde scholen, ‘sekolah liar’, yang kemudian disebut sekolah swasta (“Sejarah Pendidikan
Apa yang terjadi semenjak pemerintah kolonial mendirikan sekolah-sekolahnya pada pertengahan tahun 1700-an ? Justru penjajahan semakin langgeng, karena sekolah-sekolah negeri bentukan Belanda hanya menjadi perlambang status sebagai bagian masyarakat yang terhormat. Anak-anak sekolah bentukan Belanda acapkali kemudian menjadi pegawai pemerintah penjajah yang sering mengkhianati bangsanya sendiri dan, sebaliknya, menjilat muka penjajah.
Bagaimana pula yang terjadi ketika masyarakat mulai berinisiatif mendirikan sekolah-sekolah, yaitu Taman Siswa yang berorientasi nasionalisme dan Muhammadiyah yang bersifat keislaman, pada awal tahun 1900-an ? Sejak saat itu lahirlah generasi terdidik yang kemudian mendirikan organisasi-organisasi pergerakan bangsa yang lebih modern dan terorganisir, dan pada saatnya memproklamirkan kemerdekaan bangsa.
Perjuangan rakyat yang sekian ratus tahun menemui jalan buntu, pada waktu itu mendapati momentumnya justru ketika masyarakat berinisiatif mendidik dirinya sendiri dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan yang oleh pemerintah kolonial pada saat itu disebut dengan ‘sekolah liar’.
Inilah cikal bakal madrasah, yang berawal dari sekolah-sekolah swasta bentukan masyarakat sendiri sebagai wujud kegeraman atas sekolah-sekolah bentukan penjajah.
Dalam perkembangannya, sekolah umum lebih diminati kalangan orangtua murid ketimbang madrasah. Ini merupakan ironi, sebab, selain porsi pendidikan agama di sekolah umum yang sedikit, pula karena praktek pengajaran ala penjajah masih kerap ditemui pada sekolah umum. Misalnya, pencekokan materi pelajaran yang sejatinya pengkerdilan daya nalar peserta didik, pendapat guru selalu benar - tak boleh dibantah, dll.
Dengan landasan semangat kembali pada perjuangan bangsa, maka Kementerian Agama agaknya tengah berupaya maksimal menguri-uri eksistensi madrasah. Dalam kondisi moral bangsa yang disipongangi berbagai bencana fisik maupun akhlak, revitalisasi madrasah menemukan alasannya. Program kementerian ini antara lain menelurkan program MEDP (Madrasah Education Development Project) yang saat ini masih dalam tahap pertama, mendirikan berbagai madrasah berstandar internasional di beberapa wilayah, mengiklankan madrasah di stasiun-stasiun televisi (beserta film “Simba dan Sahabat”, yang berkisah mengenai haru-biru murid madrasah).
Upaya pemerintah ini patut disambut hangat karena, di luar berbagai cap jelek yang ditabalkan pada Kementerian Agama, disemangati oleh romantisme kembali pada eksistensi awal sebagai bangsa pejuang yang ‘berdikari’ (berdiri di atas kaki sendiri, meminjam istilah Bung Karno), bukan bangsa pegawai, yang sekadar mewarisi sistem peninggalan bangsa penjajah.
Penulis, mengajar di MI Sutapranan,
Kec. Dukuhturi, Kab. Tegal
Kamis, 14 Januari 2010
Saatnya Bagi Dunia Pendidikan
Kebodohan-lah, yang lebih menjadi persoalan di negeri ini, daripada kemiskinan. Jika sebagian kalangan aktivis berpendapat bahwa kemiskinan adalah persoalan mendasar bangsa kita (hingga seminar tentang kemiskinan dan seribu satu macam cara untuk menghindarinya lebih marak), maka sebenarnya kebodohan-lah, sumber masalah bangsa.
Orang kaya yang bodoh, akan mudah tertipu, hartanya terbuang untuk investasi yang percuma. Sebaliknya, si miskin yang berilmu, akan menemui pandangan hidup yang berkarakter dan menjadikan hidupnya bermanfaat bagi orang lain.
Masalah akan terlihat kian jelas saat kemiskinan berselingkuh dengan kebodohan. Rombongan
Bagaimana dengan orang berilmu ? Ilmu mereka akan bersinergi dengan otaknya, kemudian menggerakkan tangan dan seluruh anggota badannya, bisa jadi, untuk memanggul kayu bakar, menjual jasa pijat, menarik becak, atau menyewakan payung sebagai peneduh dari panas maupun hujan, yang dengannya didapatlah uang sekadar pengganjal perut.
Bukankah semua pekerjaan memerlukan ilmu ? Betapakah si miskin mendapatkannya ?
Ilmu bukan hanya dapat diperoleh di sekolah-sekolah formal, namun begitu banyak ilmu (hikmah) yang berserakan. Hanya karena kebodohan kita pulalah, maka emas tampak sebagai batu biasa, sedang kerikil-kerikil terlihat seperti untaian zamrud penghias dunia.
Pendidikan dapat dilaksanakan di tempat-tempat terhormat bertabur pualam, maupun di daerah-daerah kumuh beratap langit dan berpijakkan bumi telanjang. Pengajaran bisa diberikan oleh semua orang yang berilmu lebih tinggi, tanpa harus dengan latar belakang pendidikan tertentu, dan boleh dinikmati siapapun yang ingin, tanpa batasan umur. Masalahnya adalah, kita terlanjur memandang segalanya dengan sudut pandang formal. Dan kebodohan kita membuat formalisasi itu merajalela. Tak aneh jika di
Inilah saatnya bagi dunia pendidikan menampilkan wajah santunnya, menawarkan alternatif bagi bangsa yang penat dari kebodohan yang kian menegas ini.

