Rabu, 09 September 2015
HARU BIRU UN (3)
Senin, 25 Mei 2015
HARU BIRU UN (1)
Haru-biru Ujian Nasional (UN), dari tingkat pendidikan
dasar, menengah, hingga atas, menimbulkan pertanyaan yang mungkin tak akan
terjawab dengan memuaskan : apa sih sebenarnya tujuan dari segala kepayahan ini
? Sepadankah hasilnya ?Rabu, 23 April 2014
HARI BERSOLEK (2)
Selasa, 01 April 2014
REVITALISASI MADRASAH (2)
Senin, 31 Maret 2014
REVITALISASI MADRASAH (1)
Saat itu, penjajah lebih mementingkan sekolah-sekolah
bentukannya sendiri, yang kemudian hari disebut sebagai sekolah negeri.
Sebaliknya, lembaga-lembaga pendidikan rintisan masyarakat disebut dengan wilde scholen, ‘sekolah liar’, yang
kemudian disebut sekolah swasta (“Sejarah Pendidikan Indonesia”, S. Nasution,
PT. Bumi Aksara, 2008).Minggu, 30 Maret 2014
MENANTI GURU SUPER (2)
Sabtu, 29 Maret 2014
MENANTI GURU SUPER (1)
Sungguh, beban yang disandang guru, apalagi
yang mengajar pada jenjang pendidikan dasar, amat berat. Guru SD/MI merupakan
peletak dasar worldview tentang
kependidikan pada anak-anak bangsa. Jika dasarnya baik, maka (diharapkan)
anak-anak bangsa akan merespon positif terhadap pendidikan yang mereka alami
berikutnya. Sebaliknya, jika buruk, (dikhawatirkan) dapat menjadi stigma betapa
rendahnya kualitas pendidikan maupun sekolah pada khususnya.Senin, 24 Maret 2014
GURU PRAKTISI (1)

Minggu, 13 Juli 2008
Harapan Baru
Ini adalah hari pertama Almeyda Ayu Wirawan (DIDA), anakku, menuntut ilmu di sekolah formal, yaitu di Taman Kanak-kanak Pertiwi, Jl. Merak Randugunting Tegal.
Beribu harapan kusematkan di dadanya : agar ia gemar membaca, cerdas mengamati fenomena di sekitarnya, terampil mengatasi tantangan jaman, dsb. Di zamannya kelak, saat mana, mungkin saja, aku tak dapat mendampinginya, dia harus sudah mandiri. Dia harus sudah mampu membiayai sendiri hidupnya, meraih impian-impiannya sendiri maupun impian manusia pada umumnya.
Itulah antara lain alasanku mendirikan DIDA wisatabaca : agar ia menyenangi kegiatan membaca. Aku bermimpi pada saatnya nanti, orang akan dihargai berdasarkan pengetahuannya, bukan dari koneksi, kepemilikan harta, tampilan fisik semata.
Saat ini kita memandang seseorang hanya berdasar penampilan, leluhurnya saja. Sedangkan hati nurani manusia, yang oleh nabi Muhammad saw. Disebut sebagai barometer berdosa atau tidaknya seseo, tak dapat dinilai begitu saja seperti penilaian terhadap fisiknya.
Boleh saja penilaian diberikan, tapi cukup disimpan dalam hati saja, tidak perlu mempengaruhi penyikapan terhadap rang yang kita nilai. Kegiatan menaksir, menilai, adalah aktivitas keseharian kita, yang memerlukan latar belakang pengetahuan yang sahih. Apatah lagi kegiatan mengambil sikap hidup ? Jelas ini membutuhkan kualitas keilmuan yang lebih mumpuni.
Begitu banyak hati yang terluka gara-gara penilaian dan penyikapan yang sembarangan, serba memandang rendah, asal-asalan.
Kesimpulannya, pendidikan adalah harapan untuk keluar dari kegelapan yang menyelimuti dunia saat ini. Betapa banyak kesalahpahaman timbul akibat rendahnya latar belakang pendidikan orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Tak terhitung jumlahnya perkara menjadi rumit di tangan mereka yang kurang berpendidikan dan kualitas mentalnya pun rendah : birokrasi yang berbelit-belit, manipulasi, penyelewengan di mana-mana adalah akibat itu semua. Jauhkan dari anakku, ya Alloh ...
Rabu, 11 Juni 2008
Pendidikan Berkualitas
Sudah saatnya kita bangkit dan mulai melakukan perubahan!
Sesungguhnya, tokoh Pendidikan Nasional kita, Ki Hadjar Dewantara, telah memberikan dasar yang kuat bagi tujuan pendidikan nasional kita. Pendidikan tidak dimaksudkan untuk semata-mata menciptakan orang pintar serta memberikan keterampilan teknis dan sikap profesional. Pendidikan, sebagaimana didambakan para perintis kemerdekaan kita, harus bersifat holistik. Harus membangkitkan jiwa. Harus "memanusiakan manusia."
Oleh karena itu, demi mewujudkan cita-cita pendidikan nasional bagi kebangkitan Indonesia, kami menyerukan:
1. Agar pemerintah, parlemen dan masyarakat untuk melihat dan mencermati kembali paradigma pendidikan nasional Indonesia, yang seharusnya mengarah pada upaya untuk "memanusiakan manusia" dalam pengertiannya yang holistik. Diperlukan perumusan baru paradigma pendidikan nasional yang akan mampu membangkitkan jiwa dan menumbuhkan cinta kasih dalam diri manusia, selain melengkapinya dengan keahlian dalam berbagai bidang.
2. Agar pemerintah, parlemen dan masyarakat mengkaji kembali segala bentuk perundangan maupun peraturan dalam bidang pendidikan yang berpotensi menciptakan "disintegrasi" sosial di masyarakat. Segala potensi disintegrasi sosial, termasuk "pengkotak-kotakan" berdasarkan kelas sosial dan agama, harus dihilangkan dan tidak dapat ditolerir keberadaannya.
3. Agar pemerintah, khususnya Departemen Pendidikan Nasional, bersama-sama dengan berbagai institusi pendidikan di Indonesia, dapat menggali dan mengangkat kembali nilai-nilai universal dari khazanah budaya Nusantara, yang telah terbukti mampu mempersatukan bangsa dalam sebuah platform persatuan dan kebangsaan, untuk dijadikan sebagai bagian yang inheren dalam kurikulum pendidikan kita. Hal ini dapat diwujudkan dengan mengadakan
kembali pelajaran Budi Pekerti -- atau pelajaran lain yang memiliki substansi pendidikan secara holistik.
4. Agar pemerintah lebih selektif dalam memberikan izin bagi pendirian lembaga-lembaga pendidikan. Izin mendirikan sekolah semestinya diberikan pada orang-orang yang telah teruji visinya dalam bidang pendidikan dan bukannya diberikan pada para pebisnis yang hanya ingin meraih keuntungan belaka.
5. Agar Departemen Pendidikan Nasional, bersama-sama dengan berbagai institusi pendidikan di Indonesia, dapat mengkaji kembali pengajaran agama yang diberikan di sekolah-sekolah. Pelajaran agama semestinya tidak justru menciptakan munculnya sentimen terhadap orang-orang yang beragama lain. Dalam hemat kami, mengingat agama merupakan sarana untuk meningkatkan kualitas hubungan pribadi manusia dengan Sang Maha Pencipta dan Maha Pengasih, ada baiknya untuk memikirkan penempatan pelajaran agama sebagai bagian dari kegiatan ekstra kurikuler.
6. Agar pemerintah mulai memberikan perhatian khusus bagi para guru dengan cara meningkatkan kualitas maupun metodologi pengajarannya, mengangkat kembali moralnya maupun menjaga kesejahteraan mereka. Para guru yang tertekan jiwanya tentu tidak dapat diharapkan untuk menghasilkan anak-anak didik yang berjiwa merdeka.
7. Agar masyarakat ikut serta memantau lembaga-lembaga pendidikan yang menyesatkan masyarakat dengan janji-janji muluk yang tak pernah dapat dipenuhinya. Masyarakat juga perlu memantau lembaga-lembaga pendidikan yang meracuni anak didik dengan kebencian pada kelompok etnis, suku maupun agama tertentu.
8. Agar masyarakat menyadari bahwa pendidikan bukan semata-mata dilakukan melalui jalur formal belaka.Oleh sebab itu masyarakat secara luas, meskipun tidak berhubungan langsung dengan lembaga-lembaga pendidikan formal, harus ikut berpartisipasi secara aktif dalam memberikan pendidikan nilai-nilai universal bagi anak didik maupun bagi lingkungan sekitarnya, di luar sekolah.
9. Agar media massa turut mengambil tanggung jawab dalam menciptakan situasi dan kondisi yang mendukung tercapainya cita-cita pendidikan ini - yaitu untuk "memanusiakan manusia" - yang dapat direfleksikan melalui berbagai program maupun berita yang mendidik. Paradigma bisnis semata dalam dunia media yang selama ini menjadi dasar bagi produksi program serta berita yang mengeksploitasi kriminalitas ataupun dunia klenik, sudah saatnya untuk ditransformasi karena justru menjadi kontra-produktif terhadap tujuan pendidikan nasional.
Semoga bangsa kita tetap jaya.
National Integration Movement, Jakarta 2 Mei 2005
