ANAK KANGURU NAIK KE KANTUNG INDUKNYA UNTUK ISTIRAHAT DAN MAKAN ("AKU TAHU!" : Asal Tahu Saja, Suranto Adi Wirawan, 2010)
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 September 2015

HARU BIRU UN (3)

Kenyataan di Lapangan
Akibat kebijakan pemerintah yang masih belum terarah membentuk suatu sistem pendidikan nasional jangka panjang, maka timbullah perilaku lembaga penyelenggara pendidikan yang selama ini dikeluhkan masyarakat. Dari proses pembelajaran di kelas-kelas yang monoton, guru yang mangkir dari tugas mengajarnya, hingga mengakibatkan peserta didik pun terlantar, atau bahkan tawuran, karena tidak adanya program pengajaran yang konsisten.
Kegiatan try out menjelang ujian nasional pun ternyata diagendakan bukan hanya satu kali, namun paling tidak 4 (empat) kali, yaitu tingkat daerah binaan, kecamatan, kota/kabupaten, dll. Seorang siswa sekolah dasar bahkan menyatakan bahwa dirinya telah mengikuti sembilan kali try out UN tahun ini. Opo tumon ? Jangankan sembilan kali, try out satu kali saja menyiratkan ketidaksiapan institusi pendidikan untuk mengikuti ujian nasional.
Sungguh menyedihkan, Hari Pendidikan Nasional setiap tanggal 2 Mei dirayakan, berbagai seminar pendidikan digelar, pelatihan guru dipusatkan di kantong-kantong pendidikan, inovasi pembelajaran diekspresikan, kurikulum pun berganti-ganti secara periodik, namun dunia pendidikan kita masih berorientasi pragmatis pada nilai-nilai akademik yang kosong.

Sistem Pendidikan Terbaik
Bagaimana dengan yang terjadi di belahan dunia lain ? Sedikit cuplikan mungkin dapat disebutkan di sini bahwa, di negeri yang berdasarkan survei menerapkan sistem pendidikan terbaik di dunia, ‘kunci kesuksesan Finlandia dalam memperbaiki sistem pendidikannya adalah mereka tidak mengejar keunggulan akademis (excellence), tapi kesetaraan (equity).
Setiap anak harus memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, tanpa melihat latar belakang keluarga, pendapatan, atau lokasi geografis. Pendidikan utamanya bukanlah cara untuk menghasilkan individu yang cerdas, tetapi sebagai alat untuk meratakan kesenjangan sosial. Keunggulan akademis bukanlah prioritas khusus bagi Finlandia, tetapi Finlandia berhasil menciptakan keunggulan akademik melalui fokus kebijakan pada kesetaraan.’ (http://www.sekolahdasar.net/2013/03/karakteristik-sistem-pendidikan-terbaik.html#ixzz2NLiCpgP7, diakses Senin 4 Mei 2015).
Demikianlah, barangkali kita memiliki banyak anak cerdas, namun belum tentu mereka cakap dalam life skill. Setiap tahun kita menciptakan juara-juara jambore pramuka baru, namun ketahanan hidup mereka di alam liar perlu diuji. Sistem pendidikan yang baik tidak merancang program pengajaran mercusuar, melainkan membuat sistem kaki-kaki penyangga pembangunan yang walau kecil atau remeh temeh, namun karena terprogram dengan baik, penyangga-penyangga kecil itu pun menjadi gemuk dan kuat tak mudah goyah.
Sistem pendidikan yang baik terdiri dari sinergi mur dan  baut pendidikan yang kokoh, tidak memimpikan bangunan menara yang menjulang tinggi. Sinergi yang terpadu ini menghasilkan unit blok mesin pendidikan yang subur, dan dari blok-blok mesin pendidikan yang subur ini barulah muncul tunas-tunas peserta didik yang bernas, sehat dan menyehatkan.
Jika dianalogikan ke dalam sistem pendidikan kita, seharusnya sistem pendidikan tidaklah berupaya menciptakan lampu yang terang benderang, namun meratakan nyala lilin di setiap titik jejaring pendidikan, agar jika satu nyala mati, masih ada ribuan lilin lain yang masih bertahan meneruskan estafeta pembangunan. Adapun yang terjadi dewasa ini adalah, kita berharu-biru menyalakan lampu mercusuar, setelah itu kita padamkan sendiri, mengumpulkan daya upaya untuk penyalaan lampu waktu berikutnya. Orangtua dan murid berupaya maksimal agar si anak bisa lulus UN, namun etos pendidikan setelah itu tidak dipertahankan (antara lain tampak dari pesta konvoi pelajar dan corat-coret baju seragam sekolah tiap usai UN). Suatu ritus besar, yang hasilnya tidak sepadan.


Penulis, mengajar di MI Al—Islamiyah
Yayasan Syi’arul Islam, Panggung, Tegal
lintasberita

Senin, 25 Mei 2015

HARU BIRU UN (1)

Haru-biru Ujian Nasional (UN), dari tingkat pendidikan dasar, menengah, hingga atas, menimbulkan pertanyaan yang mungkin tak akan terjawab dengan memuaskan : apa sih sebenarnya tujuan dari segala kepayahan ini ? Sepadankah hasilnya ?
Segala daya upaya ditempuh demi kelulusan dari UN, mulai dari kasak-kusuk murid memburu bocoran soal, doa bersama di sekolah-sekolah, menghadirkan orangtua murid dan pembicara bahkan motivator untuk membangkitkan semangat belajar peserta didik, shalat malam bahkan hingga menginap di sekolah agar mereka terkondisikan ‘siap uji’.
Suatu kali bahkan saya membaca berita di internet betapa di sebuah sekolah di Jawa Timur, usai diadakan acara istighosah, sang kyai didaulat untuk memberi doa-doa selain kepada para calon peserta UN, juga pensil-pensil yang akan mereka pakai untuk ujian diberi rajah berupa tulisan Arab, demi mensugesti agar ujian dijalani dengan hati mantap, dada lapang, pikiran terbuka, sehingga hasilnya pun akan sesuai harapan.
lintasberita

Rabu, 23 April 2014

HARI BERSOLEK (2)

Dalam hal penghargaan terhadap para pendahulu pun, pemerintah selama ini hanya menelorkan kebijakan-kebijakan yang hanya menyentuh permukaan saja dari masing-masing bidang kehidupan, tidak merambah ranah sosial yang lebih hakiki. Untuk mengenang jasa RA. Kartini misalnya, orang lebih memilih mengadakan event-event lucu-lucuan, sekadar untuk memancing tawa, contohnya seperti yang telah disebut di muka, kontes banci berkebaya terluwes, lomba baca puisi Kartini, dll. Tidak sebanding dengan cetusan brilian RA. Kartini pada waktu itu soal persamaan hak maupun perlakuan yang tidak diperoleh perempuan karena sistem patrimonial yang diberlakukan di masyarakat, tidak tercium aroma keisengan maupun ‘coba-coba’.
Dunia pendidikan pun tak lepas dari kekonyolan macam ini, bahkan dapat disebut sebagai pelopornya. Ya, kontes-kontesan itu berasal dari lingkungan sekolah yang mengajarkan ketidakpedulian, pemasabodohan terhadap nasib sesama. Betapa mungkin dunia pendidikan yang anggarannya mencapai 20% dari APBN tak mampu melahirkan insan-insan pendidikan berkualifikasi bagus yang pemikirannya cerdas, jauh melampaui jamannya ?
Semuanya menjadi serba instan. Para pelajar pun dicetak menjadi figur instan. Ketika musim pesta siaga, mereka berlomba-lomba berperforma sempurna selayaknya pramuka mandiri, kreatif, bersahaja dsb. Pagi pramuka, siang – sore berlatih, malam menjelang tidur pun mengingat materi-materi pesta siaga. Sekian banyak waktu dihabiskan hanya untuk performa yang hanya 5 – 10 menit di depan juri. Seusai pesta siaga ? Biasanya tak berbekas sama sekali. Mereka tetap/kembali menjadi anak manja, yang bahkan tak mampu memakai bajunya sendiri.
Peringatan hari lahir Kartini pun, semuanya sibuk. Orangtua sibuk mencari salon terbaik, guru sibuk mematut-matut diri di depan cermin, para pelajar itu pun, rajin mengkonsumsi lisptik, atau selop yang cocok untuk kakinya. Sepekan sebelum hari-H peringatan Kartinian, para pelajar berlatih tampil luwes/cantik/ganteng di depan cermin. Usai itu, mereka kembali ke ‘selera asal’, yang abai pada prinsip ‘kehormatan diri berawal dari penampilan’.
Rupanya ini pun berimbas kepada penyikapan mereka terhadap dunia keilmuan pada umumnya. Menjelang ujian nasional ini, berbagai upaya dilakukan untuk menyambutnya. Mulai dari yang standar hingga yang ekstrem. Belajar di meja tulis dianggap bukan lagi standar yang cukup supaya bisa menyerap materi pelajaran di sekolah.
Tujuannya adalah ‘lulus’, entah apa pun caranya. Mulai dari mengikuti mengikuti les privat, bimbingan belajar, membuat contekan di anggota badan, membeli bocoran jawaban, doa bersama, mandi kembang, bahkan kabar terbaru, pensil-pensil yang dipakai untuk mengerjakan ujian pun, diberi jampi-jampi (http://news.detik.com/surabaya/read/2013/04/13/121032/2219358/475/jelang-un-pensil-siswa-siswi-ma-al-ihsan-dijampi-jampi).Esensi dari belajar, menuntut ilmu, pun terabaikan. Usai ujian pun, mereka segera lupa pada materi-materi yang diujikan. Sebagai guru, saya gelisah mengamati fenomena yang sudah ‘jamak’ seperti ini. Semuanya dianggap biasa-biasa saja. Bahkan fenomena semacam itu diawali dari lingkungan sekolah sebagai penyelenggara pendidikan. Betapa performa fisik lebih diutamakan ketimbang kualitas/jiwa/semangat pencarian ilmu. Penampilan 5 – 10 menit lebih dipentingkan daripada proses belajar yang menahun. Kalau sudah begini, masih layakkah bidang pendidikan mendapat anggaran pembelanjaan nasional yang begitu besar ?
lintasberita

Selasa, 01 April 2014

REVITALISASI MADRASAH (2)

Inilah cikal bakal madrasah, yang berawal dari sekolah-sekolah swasta bentukan masyarakat sendiri sebagai wujud kegeraman atas sekolah-sekolah bentukan penjajah.
Dalam perkembangannya, sekolah umum lebih diminati kalangan orangtua murid ketimbang madrasah. Ini merupakan ironi, sebab, selain porsi pendidikan agama di sekolah umum yang sedikit, pula karena praktek pengajaran ala penjajah masih kerap ditemui pada sekolah umum. Misalnya, pencekokan materi pelajaran yang sejatinya pengkerdilan daya nalar peserta didik, pendapat guru selalu benar - tak boleh dibantah, dll.
Dengan landasan semangat kembali pada perjuangan bangsa, maka Kementerian Agama agaknya tengah berupaya maksimal menguri-uri  eksistensi madrasah. Upaya pemerintah ini patut disambut hangat karena, di luar berbagai cap jelek yang ditabalkan pada Kementerian Agama, disemangati oleh romantisme kembali pada eksistensi awal sebagai bangsa pejuang yang ‘berdikari’ (berdiri di atas kaki sendiri, meminjam istilah Bung Karno), bukan bangsa pegawai, yang sekadar mewarisi sistem peninggalan bangsa penjajah.
lintasberita

Senin, 31 Maret 2014

REVITALISASI MADRASAH (1)

Barangkali benar, sistem pendidikan nasional dewasa ini sekadar meneruskan sistem yang sama diterapkan pada masa kolonial dahulu.
Saat itu, penjajah lebih mementingkan sekolah-sekolah bentukannya sendiri, yang kemudian hari disebut sebagai sekolah negeri. Sebaliknya, lembaga-lembaga pendidikan rintisan masyarakat disebut dengan wilde scholen, ‘sekolah liar’, yang kemudian disebut sekolah swasta (“Sejarah Pendidikan Indonesia”, S. Nasution, PT. Bumi Aksara, 2008).
Apa yang terjadi semenjak pemerintah kolonial mendirikan sekolah-sekolahnya pada pertengahan tahun 1700-an ? Justru penjajahan semakin langgeng, karena sekolah-sekolah negeri bentukan Belanda hanya menjadi perlambang status sebagai bagian masyarakat yang terhormat. Anak-anak sekolah bentukan Belanda acapkali kemudian menjadi pegawai pemerintah penjajah yang sering mengkhianati bangsanya sendiri dan, sebaliknya, menjilat muka penjajah.
Bagaimana pula yang terjadi ketika masyarakat mulai berinisiatif mendirikan sekolah-sekolah, yaitu Taman Siswa yang berorientasi nasionalisme dan Muhammadiyah yang bersifat keislaman, pada awal tahun 1900-an ? Sejak saat itu lahirlah generasi terdidik yang kemudian mendirikan organisasi-organisasi pergerakan bangsa yang lebih modern dan terorganisir, dan pada saatnya memproklamirkan kemerdekaan bangsa.
Perjuangan rakyat yang sekian ratus tahun menemui jalan buntu, pada waktu itu mendapati momentumnya justru ketika masyarakat berinisiatif mendidik dirinya sendiri dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan yang oleh pemerintah kolonial pada saat itu disebut dengan ‘sekolah liar’.
lintasberita

Minggu, 30 Maret 2014

MENANTI GURU SUPER (2)

Suatu kali pernah terdetik gagasan, untuk mengajar dengan kostum superhero, misalnya, daripada memakai baju safari atau uniform yang digariskan pemerintah. Ini karena superhero adalah tokoh yang diidolakan anak-anak, ‘fatwa-fatwa’nya didengar, bahkan baju yang pernah dipakainya pun dijual mahal. Pernah juga terbayang untuk mengajar murid-murid di pasar, stasiun, rumah sakit atau tempat-tempat umum yang lain, sebagai upaya mendekatkan mereka dengan realita keseharian yang diajarkan. Ini karena, realita keseharian, permasalahan, akan lebih dikenali dari dekat ketimbang (menjejalkan) teori-teori yang paling-paling akan dianggap kosong belaka.
Celakanya, ini hanyalah angan mewah di negeri yang kian disipongangi oleh kabar tawuran antar kelompok warga, pernikahan besar-besaran selebriti dengan foto prewedding yang ‘wah’, pesiar anggota dewan ke luar negeri, juga merebaknya video porno pelajar. Kapal retak ini kian membusuk, dikelindani oleh kesulitan ekonomi berkepanjangan, dan akan segera menjadikannya barang rongsok yang diobral pun tak laku.
Pesimiskah ? Justru ini harus dijadikan tantangan, cakra manggilingan, yang akan membawa kapal pendidikan ke lautan damai. Superhero tak lahir dari rahim subur tanpa kendala, melainkan dari mereka yang mampu mengenali masalah dan menemukan formula solusi yang tepat untuknya. Guru super tak mungkin berasal dari sistem pendidikan yang telah dipenuhi fasilitas, melainkan dari situasi krisis yang bahkan tak memungkinkannya untuk mengajar.
lintasberita

Sabtu, 29 Maret 2014

MENANTI GURU SUPER (1)

Sungguh, beban yang disandang guru, apalagi yang mengajar pada jenjang pendidikan dasar, amat berat. Guru SD/MI merupakan peletak dasar worldview tentang kependidikan pada anak-anak bangsa. Jika dasarnya baik, maka (diharapkan) anak-anak bangsa akan merespon positif terhadap pendidikan yang mereka alami berikutnya. Sebaliknya, jika buruk, (dikhawatirkan) dapat menjadi stigma betapa rendahnya kualitas pendidikan maupun sekolah pada khususnya.
Para peserta didik akan trauma dengan pendidikan dan menganggap sekolah sebagai penjara bagi kebebasannya berkreasi. Timbullah gagasan deschooling society, home schooling, serta maraknya lembaga-lembaga bimbingan belajar, sebagai dampak carut-marutnya sistem pendidikan nasional, yang menjadikan guru tidak maksimal mengajar di sekolah.
Itu masih sekelumit kondisi internal dalam dunia pendidikan, sedangkan, tantangan dari luar dunia ini masih amat banyak. Kompetitor yang dianggap paling besar dan kerap dikeluhkan para pengajar adalah glamor dunia selebriti, stasiun-stasiun televisi, yang dituding banyak menampilkan tontonan-tontonan tak layak konsumsi.
Peserta didik lebih mengidolakan pesohor yang tak pernah mereka temui daripada guru yang sehari-hari mendampingi. Para petenar yang baru kemarin sore dibesarkan media lebih diamini ketimbang guru-guru yang dengan setia memberikan bimbingan dari nol.
lintasberita

Senin, 24 Maret 2014

GURU PRAKTISI (1)


Menimbang tujuan perubahan kurikulum terbaru, 2013, yaitu agar siswa tidak terbebani banyaknya mata pelajaran yang mereka serap, maka dari segi kalangan guru juga harusnya diadakan reformasi besar-besaran.
Reformasi yang dimaksud ialah agar para guru yang mendidik anak-anak kita berasal dari kalangan praktisi/professional. Misalnya saja : untuk mata pelajaran ekonomi/berhitung, kita memerlukan para pelaku usaha untuk mengajari perihal  hitung-menghitung; untuk pelajaran berbahasa (baca / tulis) kita memerlukan para seniman/budayawan; sedang untuk olah tubuh, kita membutuhkan jasa para instruktur senam/aerobik.
Pemikiran ini berawal dari keprihatinan akan masih stagnannya kualitas pada khususnya dan kualitas pendidikan nasional pada umumnya. Acap kita dengar, guru visioner/berkarakter, biasanya mengajar dengan hati, mencintai dan dicintai murid-muridnya. Biasanya guru seperti ini dikenal sebagai guru inti, namun presentasenya masih amat rendah di negeri kita. Sebagian besar guru kita adalah guru yang mengajar seadanya, sekadar untuk mengejar target kurikulum.
Mungkin inilah sebabnya, nasehat guru tidak dipatuhi, yang pada gilirannya mengakibatkan tawuran pelajar. Guru mereka bukanlah orang berpengalaman dalam bidang yang diajarkannya. Guru selama ini hanyalah tenaga bayaran yang dididik untuk mengajarkan materi berhitung, berbahasa dll.
lintasberita

Minggu, 13 Juli 2008

Harapan Baru

Ini adalah hari pertama Almeyda Ayu Wirawan (DIDA), anakku, menuntut ilmu di sekolah formal, yaitu di Taman Kanak-kanak Pertiwi, Jl. Merak Randugunting Tegal.

Beribu harapan kusematkan di dadanya : agar ia gemar membaca, cerdas mengamati fenomena di sekitarnya, terampil mengatasi tantangan jaman, dsb. Di zamannya kelak, saat mana, mungkin saja, aku tak dapat mendampinginya, dia harus sudah mandiri. Dia harus sudah mampu membiayai sendiri hidupnya, meraih impian-impiannya sendiri maupun impian manusia pada umumnya.

Itulah antara lain alasanku mendirikan DIDA wisatabaca : agar ia menyenangi kegiatan membaca. Aku bermimpi pada saatnya nanti, orang akan dihargai berdasarkan pengetahuannya, bukan dari koneksi, kepemilikan harta, tampilan fisik semata.

Saat ini kita memandang seseorang hanya berdasar penampilan, leluhurnya saja. Sedangkan hati nurani manusia, yang oleh nabi Muhammad saw. Disebut sebagai barometer berdosa atau tidaknya seseo, tak dapat dinilai begitu saja seperti penilaian terhadap fisiknya.

Boleh saja penilaian diberikan, tapi cukup disimpan dalam hati saja, tidak perlu mempengaruhi penyikapan terhadap rang yang kita nilai. Kegiatan menaksir, menilai, adalah aktivitas keseharian kita, yang memerlukan latar belakang pengetahuan yang sahih. Apatah lagi kegiatan mengambil sikap hidup ? Jelas ini membutuhkan kualitas keilmuan yang lebih mumpuni.

Begitu banyak hati yang terluka gara-gara penilaian dan penyikapan yang sembarangan, serba memandang rendah, asal-asalan.

Kesimpulannya, pendidikan adalah harapan untuk keluar dari kegelapan yang menyelimuti dunia saat ini. Betapa banyak kesalahpahaman timbul akibat rendahnya latar belakang pendidikan orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Tak terhitung jumlahnya perkara menjadi rumit di tangan mereka yang kurang berpendidikan dan kualitas mentalnya pun rendah : birokrasi yang berbelit-belit, manipulasi, penyelewengan di mana-mana adalah akibat itu semua. Jauhkan dari anakku, ya Alloh ...

lintasberita

Rabu, 11 Juni 2008

Pendidikan Berkualitas

Sungguh menyedihkan, di tengah-tengah situasi yang centang perenang, ketika kita justru butuh sekian alasan untuk "bersatu", kita mendengar tentang adanya Rancangan Peraturan Pemerintah dan Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional 2004-2009 yang berencana membuat dua jalur pendidikan: Jalur Formal Mandiri dan Jalur Formal Standar. Sebuah gagasan yang justru berpotensi menciptakan "disintegrasi" berdasarkan kelas sosial.

Sudah saatnya kita bangkit dan mulai melakukan perubahan!

Sesungguhnya, tokoh Pendidikan Nasional kita, Ki Hadjar Dewantara, telah memberikan dasar yang kuat bagi tujuan pendidikan nasional kita. Pendidikan tidak dimaksudkan untuk semata-mata menciptakan orang pintar serta memberikan keterampilan teknis dan sikap profesional. Pendidikan, sebagaimana didambakan para perintis kemerdekaan kita, harus bersifat holistik. Harus membangkitkan jiwa. Harus "memanusiakan manusia."

Oleh karena itu, demi mewujudkan cita-cita pendidikan nasional bagi kebangkitan Indonesia, kami menyerukan:

1. Agar pemerintah, parlemen dan masyarakat untuk melihat dan mencermati kembali paradigma pendidikan nasional Indonesia, yang seharusnya mengarah pada upaya untuk "memanusiakan manusia" dalam pengertiannya yang holistik. Diperlukan perumusan baru paradigma pendidikan nasional yang akan mampu membangkitkan jiwa dan menumbuhkan cinta kasih dalam diri manusia, selain melengkapinya dengan keahlian dalam berbagai bidang.

2. Agar pemerintah, parlemen dan masyarakat mengkaji kembali segala bentuk perundangan maupun peraturan dalam bidang pendidikan yang berpotensi menciptakan "disintegrasi" sosial di masyarakat. Segala potensi disintegrasi sosial, termasuk "pengkotak-kotakan" berdasarkan kelas sosial dan agama, harus dihilangkan dan tidak dapat ditolerir keberadaannya.

3. Agar pemerintah, khususnya Departemen Pendidikan Nasional, bersama-sama dengan berbagai institusi pendidikan di Indonesia, dapat menggali dan mengangkat kembali nilai-nilai universal dari khazanah budaya Nusantara, yang telah terbukti mampu mempersatukan bangsa dalam sebuah platform persatuan dan kebangsaan, untuk dijadikan sebagai bagian yang inheren dalam kurikulum pendidikan kita. Hal ini dapat diwujudkan dengan mengadakan
kembali pelajaran Budi Pekerti -- atau pelajaran lain yang memiliki substansi pendidikan secara holistik.

4. Agar pemerintah lebih selektif dalam memberikan izin bagi pendirian lembaga-lembaga pendidikan. Izin mendirikan sekolah semestinya diberikan pada orang-orang yang telah teruji visinya dalam bidang pendidikan dan bukannya diberikan pada para pebisnis yang hanya ingin meraih keuntungan belaka.

5. Agar Departemen Pendidikan Nasional, bersama-sama dengan berbagai institusi pendidikan di Indonesia, dapat mengkaji kembali pengajaran agama yang diberikan di sekolah-sekolah. Pelajaran agama semestinya tidak justru menciptakan munculnya sentimen terhadap orang-orang yang beragama lain. Dalam hemat kami, mengingat agama merupakan sarana untuk meningkatkan kualitas hubungan pribadi manusia dengan Sang Maha Pencipta dan Maha Pengasih, ada baiknya untuk memikirkan penempatan pelajaran agama sebagai bagian dari kegiatan ekstra kurikuler.

6. Agar pemerintah mulai memberikan perhatian khusus bagi para guru dengan cara meningkatkan kualitas maupun metodologi pengajarannya, mengangkat kembali moralnya maupun menjaga kesejahteraan mereka. Para guru yang tertekan jiwanya tentu tidak dapat diharapkan untuk menghasilkan anak-anak didik yang berjiwa merdeka.

7. Agar masyarakat ikut serta memantau lembaga-lembaga pendidikan yang menyesatkan masyarakat dengan janji-janji muluk yang tak pernah dapat dipenuhinya. Masyarakat juga perlu memantau lembaga-lembaga pendidikan yang meracuni anak didik dengan kebencian pada kelompok etnis, suku maupun agama tertentu.

8. Agar masyarakat menyadari bahwa pendidikan bukan semata-mata dilakukan melalui jalur formal belaka.Oleh sebab itu masyarakat secara luas, meskipun tidak berhubungan langsung dengan lembaga-lembaga pendidikan formal, harus ikut berpartisipasi secara aktif dalam memberikan pendidikan nilai-nilai universal bagi anak didik maupun bagi lingkungan sekitarnya, di luar sekolah.

9. Agar media massa turut mengambil tanggung jawab dalam menciptakan situasi dan kondisi yang mendukung tercapainya cita-cita pendidikan ini - yaitu untuk "memanusiakan manusia" - yang dapat direfleksikan melalui berbagai program maupun berita yang mendidik. Paradigma bisnis semata dalam dunia media yang selama ini menjadi dasar bagi produksi program serta berita yang mengeksploitasi kriminalitas ataupun dunia klenik, sudah saatnya untuk ditransformasi karena justru menjadi kontra-produktif terhadap tujuan pendidikan nasional.

Semoga bangsa kita tetap jaya.

National Integration Movement, Jakarta 2 Mei 2005
lintasberita